Minggu, 11 September 2011

Ilalang


Sebatang ilalang berdaun kuning, hujan

terlambat datang. Musim garang meminta elang

menukik di kejauhan. Pekik ayam jantan,

bunyi angin parau dari bukit mencipta sunyi.


Sepotong akar harus terbenam berapa dalam, menunggu

kabut menjadikannya embun. Sepucuk surat

dari parau ayam jantan, menanti alamat nasib

dari ujung paruh maut. Di tebing-tebing batu dan debu,

angin memukul sampai ke hati.


Sepotong akar ilalang harus terlambat berapa dalam, hingga pucuk bersemi

mengucap selamat pagi. Seuntai hati harus tersiksa berapa pedih,

hingga tiba luka dan cinta saling mengerti. Untuk penantian suara yang panjang,

ia menahan hasrat cinta tanpa luka, tanpa deru dari batu,

tanpa lubang dari tebing, yang menggiring sunyi asal segala bunyi.


Seperti doa rintih ayam betina untuk anak-anaknya, tanpa menyakiti siapa-siapa.

Tolong katakan pada hujan, bagaimana menghadang cinta yang terlambat datang?


Sebatang ilalang berdaun kuning, menjaring kabut menahan duka selamat pagi,

pada matahari yang melenyapkan embun sebelum siang.


Angin telah mengirim kabar dari bukit, tentang sepasang elang yg terbang gagah

menuju langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!