Rabu, 18 September 2013

KALIMANTAN, BIARKAN KAMI YANG BICARA

berharap yang lain bicara, tak ada suara
orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan daun rindang
belantara, sementara
kita di dalam raya kata raya aroma raya cuaca raya langit hijau warna
masih saja, ya masih saja mencoba lepaskan gerah dan kering cahaya
hiruk-pikuk di gamang-gamang lapisan subur berkubang jejak lubang,
lubang-lubang sampai ke batas nganga, dan nganga itu telah pula
hadirkan rupa-rupa wajah pendatang, sementara kita
melepas jerat saja tak mampu di cercah gelak dan tawa, senyum kita  terkunci,
terkunci oleh kebodohan diri sendiri, tak tak  tak,  - tak mampu menepis buta,
buta bahwa kita masih dilena dalam kungkung dan buai morgana, morgana
dalam sekap-sekap pendar cahaya

di puncak pucuk daun kerontang kita lihat ujung monas yang tajam,
tajam menghujam,
dan kisah rimba raya, kisah hutan-hutan penuh misteri; lenyap tanpa cerita
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara di antara debu dan degup jantung berpacu

berharap yang lain bicara, tak ada suara, dan sungguh, tak ada suara
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara dengan senyum terkunci

ketidak-adilan itu tetap saja ada di sini


by Ali Syamsudin Arsi
Banjarbaru, 14 Juli 2013




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!