Rabu, 26 September 2012

BAU BUSUK DAN TELINGA YANG DIGANTUNG DI RUANG RAPAT PARLEMEN




Bau busuk mengolok-ngolokku. Mereka yang bertutup hidung berkata; "bau busuk itu berasal dari diri kau dan  juga teman-teman kau. Bau busuk itu telah membunuh anak-anak kami! membunuh keluarga kami!’’.  Aku mengendus-ngendus, menciumi ketekku. Menciumi selangkanganku. Tak ada.  Aku sudah mandi uap, ber spa, luluran sekalian massage menggosok daki, sekalian ho-oh seharian di salon simpananku. Lalu aku berendam di bathtub sebuah hotel mewah. Tapi kalian masih menuduh sumber  bau busuk adalah diriku. Bau busuk darimana? Kalau bau busuk dari tahi di perut ku yang belum dikeluarkan, kalian pun punya  pula. Ini fitnah.  Ini pembunuhan karakter.


II
Aku sudah membantah. Tapi kalian malah beramai-ramai mendatangiku dan teman-temanku. Membawa poster,  bertuliskan tuntutan mundur; jangan cemari negeri kami. Kami asik saja duduk-duduk. Membaca koran, yang bertumpuk di meja di sebuah gedung  yang sama nilainya dengan 1000 rumah sangatsangat sederhana sekali. Padahal kami baru jalanjalan dari luar kota. Padahal kami habis ho-oh di sebuah hotel yang mewah di Jakarta. Kalian yang datang dengan tutup hidung masih tak percaya. Aku dan teman-temanku saling mencium. Saling mencium ketek dan selangkangan. Tapi tak terdeteksi bau busuk.  Apakah hidung kami telah mati dan  hanya tajam menciumi bau uang? ‘’ Bau busuk yang membunuh itu terkumpul di gedung ini!’’ teriak kalian hingga urat di leher putus.


III
Kami  guyur badan kami dengan farfum super wangi.  Seluruh bagian gedung parlemen kami semprot pula dengan minyak harum. Termasuk telinga-telinga  kami yang telah di gantung di mikropon dalam ruangan rapat paripurna. Bahkan  tempat sampah yang tertampung berisi aspirasi di belakang gedung dewan  perwakilan rakyat kami seprot pula. Tapi besoknya kalian datang lagi. Lebih banyak lagi. Ribuan. Jutaan. Terus berdatangan pakai  masker, seakan-akan takut terkena virus dari bau busuk yang memabukkan. Kalian mengepung. Menaiki. Meludahi. Mengencingi. Memberaki.  Sambil berteriak hingga urat leher putus dan muntah-muntah; ‘’kalian memang busuk!’’ . Tapi tentu saja kami tidak mendengar. Karena telinga kami telah digantung di mikropon di  ruang rapat paripurna di gedung parlemen yang berbau busuk.


by Akhmad Zailani
Mei, 1998
(Diambil dari Suara 5 Negara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!