Sabtu, 29 Desember 2012

Purnama di Kebisuan


Desi Dian Yustisia


Dia purnama namun sepertinya tertutup kabut tebal. Di sana yang terlihat hanya kemuraman, kelam yang megah terpancar dari wajahnya yang bulat telur. Seperti apa isi kepala dan hatinya tiada yang bisa meraba. Ia memutuskan bisu beberapa tahun belakangan ini. Suara merdu yang selalu membacakan sajak-sajak indah di kepingan malam sepertinya hanyalah kenangan manis yang tersisa darinya.
Pucuk-pucuk dedaunan akasia menarikan senyapnya malam di gelungan angin. Menebar aroma pekat, menyesak dada yang kian pengap berkurung di kamar bisu ini. Sejak setahun lalu hanya ada aku dan dia di sini. Sejak dia datang dan memilih untuk tetap duduk di hadapan bingkai jendela itu, tak ada kata yang dia pecahkan untuk kami jadikan canda atau gelak mengisi waktu kosong. Dia sungguh ingin bisu saja.
Malam ini purnama jatuh lagi di wajahnya, dari bibir jendela ada pendar yang bias menerangi kamar yang telah terbiasa dibuat tetap tak berpenerangan. Satu-satunya cahaya hanya dari wajah bulat telur yang setia tak beranjak dari singgasana bisunya itu.
Entah sudah berapa kali aku menghela nafas, mengusir kejenuhan sambil berdoa ada sebait kata yang akhirnya dia ucapkan.
“Purnama, sampai kapan?”
Tanyaku hanya terjawab dengan pantulan suaraku sendiri.
“31 Desember 1982, hampir genap 29 tahun kita bersama, tak ingatkah kau? bagaimana kita melewati waktu-waktu yang mengkristal jadi kenangan? Apa kau tak ingat saat kita tak sejalan untuk pertama kalinya? Saat itu kau memutuskan untuk memasukkan lelaki itu ke hatimu, kau tak pernah sedikit pun mendengarkan kecemasanku tentang sakitmu kelak ketika dia mematahkan hatimu yang sangat kutahu rapuh seperti reranting kering”
Lagi seperti malam-malam lalu, dia membuatku bercerita panjang lebar tanpa respon sedikit pun. Dia tetap anggun dan angkuh dalam bisunya.
“Desember kita hampir tiba. Tak inginkah kau merayakan hari lahir kita dengan semerbak bunga mawar merahmu? Walau sesungguhnya aku lebih suka mawar putih. Tapi tak apalah, aku juga telah terbiasa mengalah darimu sejak dulu. Kita berdua ibarat lilin. Kau cahaya dan aku lelehannya.”
Aku dan dia adalah satu, namun dari kisah panjang aku hanyalah pelengkap saja. Aku hanyalah serupa bayangan yang sering terabaikan. Puncaknya saat cinta membutakan matanya. Saat matanya hanya terisi bayangan semu lelaki yang kurasa tak lebih dari penggombal.
Hei, ke mana lelaki itu? Bukankah dia pernah bersumpah tak akan pernah jauh darimu? Lantas mengapa kau di sini hanya bergaul sepi? Bukankah katanya kau nyawanya? Atau mungkinkah dia telah mati dan mengajak serta jiwamu untuk mati?”
Dia tetap bisu, tapi nafas yang mengalir di dadanya terlihat jelas berubah iramanya.
“Atau benarkah firasatku? Dia yang mencampakkanmu dalam kubang bisu ini? Benarkah? Jawablah aku. Kau tak perlu malu jika terbukti kata-kataku saat itu benar tentangnya, jujurlah, keluarkan saja kesakitan itu dari dalam sana”
Beberapa bulir bening jatuh dari sudut matanya. Mungkin aku terlalu kasar padanya. Tapi, biarlah. Setidaknya aku senang malam ini bisa melihatnya menangis. Itu menyakinkan aku bahwa dia masih hidup.
Bulir-bulir bening itu berpendar seperti bintang di wajahnya. Wajah yang dulu selalu penuh senyum. Aku ingat, itulah yang membuat banyak yang menyukainya. Banyak lelaki yang terpikat dengan senyumnya yang manis. Namun, sayang dia memilih untuk jatuh pada lelaki yang salah.
“Dia selalu bisa membuatku menjadi perempuan beruntung bila di dekatnya.” itu katanya dulu. Ketika aku bertanya apa kelebihan lelaki itu ketimbang yang lainnya.
“Ahhh! Menurutku dia hanya menggombalimu.”
“Tidak seperti itu, dia sungguh mencintaiku.”
“Benarkah? Tapi mengapa aku menyangsikan itu? Berhati-hatilah dengan hatimu.”
“Kau tak akan pernah mengerti sebab cinta itu tak datang untukmu.”
“Tapi, aku tahu membedakan mana yang tulus atau sekedar pura-pura tulus.”
“Ahh! Sudahlah, yang penting saat ini akulah perempuan paling bahagia karenanya.”
Dia tak pernah mau mendengarkan kekhawatiranku. Telinganya hanya mau mendengar kata-kata manis penuh racun dari lelaki itu. Dia membiarkan benih-benih kesakitan tumbuh di sana. Seperti jamur yang subur di atas ranting-ranting kering hatinya.
“Purnama, coba ceritakan padaku? Ayo berceritalah. Ceritakan semua yang kau anggap manis itu, ketika tiba pada cerita pahitnya aku yang akan menelannya untukmu. Kau tahu, kan jika aku selalu ada untuk itu?”
Air mata itu kini kian ruah. Aku bahagia sekali. Tak apa hujan malam ini basah dan menjadi sungai di wajahnya. Mungkin itulah sedikit bahasa yang bisa aku tangkap dari bisunya. Sungguh aku bahagia melihatnya menangis.
“Tak inginkah kau sekali saja menghargai keberadaan dan perhatianku padamu? Tak ada yang lebih mencintaimu dibanding aku di jagad ini. Bahkan, kau sendiri tak bisa mengalahkanku tentang itu.”
***
Pucuk-pucuk akasia masih menari bersama angin yang kian dingin. Tembang gemintang pun melagukan notasi malam yang damai. Riak-riak nafas pada pelakon malam terasa merdu menyeimbangkan nadanya dengan isakan purnama. Dia telah mulai hidup lagi.
“Purnama, masih ada denyut kasih yang mengalir di dadamu. Bangunlah dan mari kita bercengkerama seperti ketika kita masih kanak-kanak. Seperti ketika kita berburu kunang-kunang dan menjadikannya lentera tidur kita. Tahukah kau, aku merindukan sajak-sajakmu. Bukankah dulu kita selalu mendentingkan malam dengan larik-larik indah yang berisi manis kata-katamu. Kita dulu punya rumpum-rumpun puisi yang bermekaran, tapi kau membuatnya kini tak semerbak lagi, Bangunlah! Mari menyemai lagi, aku merindukanmu!”
Tiada henti nyaliku untuk menyalakan lagi gairah yang beku di jasad purnama. Tapi isaknya kini telah terhenti, kembali pada bisu. Air matanya mulai pupus dan mengering di sana. Wajah itu tenang lagi. Seperti semula. Namun, aku tahu dia mendengarkan setiap ucapku. Tak peduli jika tiada berbalas yang jelas dia paham bahasa yang aku utarakan.
Tiada pula masa untukku berhenti sebab aku pun akan ikut mati jika membiarkannya tetap mati. Sedikit nyawa yang kupunya, adalah karena berbagi dengannya sekian masa yang telah lewat.
Adalah kenangan yang menjadi energi ketika tuas-tuas kata sudah tak ingin dia gerakkan lagi. Sejumput? Bukan, tak sesederhana itu yang telah aku kumpulkan. Dia boleh saja lupa atau sengaja melupa. Namun, cerita yang aku punya cukup untuk membuat masa berputar lebih lama lagi. Aku tiada akan lelah.
“Sampai kapan? Tak bosankah kau mengunci kata? Sedikit saja, tak usah sebait, selarik saja berikanlah ujaranmu. Tak jenuhkah kau mengabaikan aku?”
Serat-serat kenangan masih utuh menjuntai, mengakarkan rasa yang hangat. Dan ketika sulur-sulur emosi dalam jiwa matinya telah tumbuh lagi, aku tahu dia pasti bersuara lagi.
Sekian jarak yang membentang antara kataku dan pemahamannya. Sekian lama itu pula yang kuhitung tentang rasa yang terlerai. Kalau saja ranting-rantingnya tak kubiarkan rapuh sejak awal. Mungkin akan lebih mudah menumbuhkan tunas-tunas baru di ketegarannya.
“Tahukah kau, saat tersakit yang pernah kurasa? Saat lelaki itu merebutmu dariku. Saat kau ikhlas mengucap selamat tinggal padaku. Saat kau mengabaikan keberadaanku seperti saat ini, tapi seperti yang kau tahu aku tak pernah bisa benar-benar hilang dari hidupmu. Karena aku adalah kalbumu.”
Malam semakin hitam, jari-jari cahaya bulan telah tertelungkup di bagian gelap bumi. Sementara aku dan dia masih sibuk dengan pergulatan bisu. Sambil menghitung purnama yang berlalu.
***
Bumi Borneo di tengah purnama, 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!