Senin, 24 Juni 2013

Tiga Manusia pada Sebuah Pulau


Ali Syamsudin Arsi

Halaman rumah yang lengang. Sesekali melintas juga pejalan kaki dengan suara alas sandal bersentuhan permukaan bumi. Engkau menatap ke luar kaca jendela. Senja memiringkan bias sinarnya, celah-celah daun sebagai sapuan kuas di kanvas cahaya,.sekarang apa mau dikata telah menjadi keputusan bersama, pembunuhan terhadap pembunuhan. Tali gantungan sebagai pilihan dan orang-orang sepakat untuk mengubur kenangan pahit yang menyakitkan. Pembantaian kalian lakukan di hadapan banyak penonton pada suatu malam. Bukan penyesalan karena ruang yang kalian ciptakan bukan kekosongan tetapi jelas itu merupakan lukisan penuh darah dari gelimpangan tubuh-tubuh berhamburan dengan bagian demi bagian terlepas dari keseluruhan dan keutuhan yang begitu sempurna sebagai ciptaan. Tali dari serat terburuk sebagai pilihan. Diamlah wahai anak-anak yang nakal. Mereka telah tiada. Memilih mati dengan caranya sendiri. Dan pada sebuah pulau berlingkar laut berlingkar gelombang berlingkar kabut berlingkar duri-duri di rimbun gelap di rimbun hitam.

Pada sebuah pulau, gema Allahu akbar berkumandang. Di sebuah pentas, pada titik bumi yang lain, berjarak  puluhan centi meter pada skala-peta dari pulau tersebut dengan sorot mata seluruh penonton menyaksikan tiga orang terpidana sedang berhadapan dengan putusan sidang. Pada sebuah pulau gema allahu akbar berkumandang. Di atas pentas segala upaya hukum telah sampai batas akhir yang paling menentukan. Pada sebuah pulau gema itu terus saja berkumandang, tanpa ada keraguan di tatap mata mereka, tanpa ada ketakutan di raut wajah mereka. Jauh dari pulau itu, berjarak puluhan centi meter pada skala-peta, adalah para penonton drama sebuah sidang dengan tingkah polah lucu bercampur haru dan menegangkan. Ketiga terpidana akhirnya ditanya tentang permintaan terakhir dari masing-masingnya. Pada sebuah pulau, dengan segala kekuatan, orang-orang bersiap siaga, ini upacara untuk semua bangsa di dunia, tanpa kecuali, seluruh mata setiap manusia tengah memandang dengan penuh perhatian semua pemberitaan menjadi sangat menentukan bahwa ada peristiwa dunia yang tengah dijalankan. Di atas pentas dengan sorot lampu yang lumayan bagus dan ketenangan para penontonnya, ketika ditanya kepada terpidana satu, sedang terpidana yang lain tidak ada ditampilkan ( rupanya masih saja sempat meraih segelas air putih di belakang layar, karena memang sangat haus maka lahap sekali diminumnya, sementara menunggu giliran tampil berikutnya untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang permintaan terakhirnya nanti, di sebelahnya berdiri terpidana yang lain dengan selalu mencoba santai tetapi terlihat jelas bahwa ia belum hapal benar naskah yang akan ia bawakan saat-saat terakhir nanti, dapat dilihat dari komat-kamit bibirnya mengucapkan dialog-dialog yang cukup lumayan panjang ), “Saya hanya ingin membacakan sebuah puisi,” jawabnya lantang penuh keyakinan. “Hanya itukah permintaan terakhir kamu, wahai terpidana satu?”. Tanpa keraguan, tegas dan lantang, dijawabnya pula,” Ya. Saya hanya ingin membacakan sebuah puisi, dan setelah itu saya tidak mau bicara lagi, dan setelah itu saya tutup mulut terhadap semua, ya, semuanya saya serahkan kepada yang maha kuasa.” Musik terdengar syahdu mengiringi langkah bergerak pelan dari arah panggung sebelah kanan bagian belakang menuju titik tengah terdepan, sorot lampu mengikuti langkah pelan itu untuk memberikan efek keheningan dan proyeksi permainan agar menjadi lebih dapat dirasakan segenap isi ruangan pentas. Pada sebuah pulau gemuruh berkumandang menusuk asma tuhan dan orang-orang saling sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya ketika di waktu yang bersamaan pula sebuah putusan telah ditetapkan akan secepatnya mengakhiri perjalanan segala titian doa dari orang-orang yang merasakan langsung bahwa derita dan luka telah pula terjadi kepada banyak tubuh bergelimpangan. Perlahan diangkatnya tangan sebelah kanan dengan kepal jemari penuh penghayatan, wajah pelan tengadah tepat setajam tusukan mata elang bertemu sasaran di semak-semak dalam padang. Getar-getar tubuh telah melahirkan isyarat bahwa ia akan berbuat dengan maksimal, musik mendukung penuh disertai sorot pencahayaan warna perak dan hijau bergantian, tiba-tiba segaris cahaya turun tepat dari atas kepalanya warna ungu dan menjadi sangat berwibawa.

Ia pun mulai membaca,

“Indonesia dalam kaca mata luka; serapah apa yang memang pantas untuk dijadikan umpan kepada ulat-ulat daun yang dengan sangat tidak sengaja tersangkut di jaring-jaring, mengatasnamakan kenistaan berjubah luka, wahai, katakanlah kepada kami, dari bilik hati ke bilik nurani, katakanlah kepada kami, wahai selembar daun kering yang masih melekat di dahan lapuk ini, tak sepantasnya kami dan tak sepantasnya harus melepaskan agar gugur daun dengan empuk sebelum daun menjadi retak sebelum dahan bertambah lapuk katakanlah kepada kami, wahai daun-daun busuk yang masih tersangkut di ketiak cabang-cabang retak, jangan menunggu badai jangan menunggu topan jangan menunggu, angin puting-beliung di tangan kami mengepal di kaki kami derap segala nyali berangkatlah ke tepi sebelum menjadi sunyi ditikam belati, adalah lidah kami yang kosong, kami tak perlu janji yang menjadi kunyahan dari tulisan sejarah di batu-batu waktu, serapah apalagi yang harus dijadikan santapan sarapan pagi dan setiap pagi, sementara semua telinga selalu dan selalu dikunci, serapah apalagi, ya tuhan serta tuhan-tuhan yang lain genap sudah rasanya kepercayaan yang Maha Penuh ini ada di sini sekaranglah saatnya kami kembalikan Indonesia kami kepada-Mu, kami tak mampu lagi menjaga kepercayaan yang diberikan sebelum kembali dengan sangat terpaksa maka ambillah, sempurnakanlah seperti ulat-ulat pemakan daun itu tak pernah mau tahu semua berjalan seakan apa adanya di balik pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan, itu bukan atas nama siapa-siapa, yang ada adalah dendam segenggam ulat, yaa tuhan terimalah penyerahan Indonesia kami ini, tenggelamkanlah Indonesia ini ke dalam laut-Mu yang Maha itu agar tak ada lagi yang mencaci maki untuk Indonesia, kelak bila tersebut sebuah nama, maka tak ada lagi nama Indonesia yang dahulu dan sekarang; yang ada adalah yang akan datang, Indonesia dalam kaca mata luka,
 katakanlah kepada kami, wahai kilau tajam mata belati,
 tari !!! menari !!! di sini, tikam getah ngilu
katakanlah kepada kami, wahai kilau tajam mata belati,
 tari !!! menari !!! di sini, tikam getah ngilu
katakanlah kepada kami, wahai kilau tajam mata belati,
 tari !!! menari !!! di sini, tikam getah ngilu
katakanlah kepada kami, wahai kilau tajam mata belati,
 tari !!! menari !!! di sini, tikam getah ngilu

(tiba-tiba seekor kecoa menampakkan senyum manisnya dan di belakang kecoa itu ada gerombolan tikus, babi, singa, macan, rayap, belatung, kumbang, kutu busuk tertawa-tawa, tertawa) Indonesia dalam kaca mata luka; yang menjerit sekarang bukan hanya pesakitan, indonesiaku sudah gila, syaraf-syarafnya kusut masai tak ada ujung tak mampu menemukan pangkal, bagai duduk di kursi listrik kematian, otot tulang jantung mata dan angan-angan serta gairah seksualnya bergetar tanpa aturan, indonesiaku sudah tidak punya peta, di gugusan pulaunya hanya ada mimpi, mimpi yang menghadirkan keluhan dusta tangis dan darah; peluh keringatnya sudah keluar dari jalur ketidak-beraturan indonesiaku tidak mampu mengatakan bulan sebagai bulan indonesiaku tidak mampu mengatakan cahaya sebagai cahaya, pernyataan demi pernyataan hanya sebatas ejaan dan kumpulan kosa kata perbuatan demi perbuatan hanya sebatas peran aktor badut pemain sandiwara, terkadang indonesiaku dapat menguraikan tapi sebenarnya indonesiaku buta pada akar persoalan sebab yang ada hanyalah pembenaran di otak indonesiaku sudah tidak ada lagi kebenaran terselubung oleh khianat dan pembohongan indonesiaku dalam kaca mata luka sejarah semakin menjauh sambil menutup wajahnya, ada sejumlah nama tak mampu berbuat apa-apa ada seonggok bangkai kata yang tak mampu membangun kerangka baut demi baut engsel demi engsel lepas dan berkarat indonesiaku paling canggih meruntuh-lantakkan pilar-pilar kebudayaan dan peradaban namun tak mampu menjaga kilau cahayanya indonesiku adalah keping-keping kapal si Malin Kundang atau kebisuan dinginnya batu gunung Raden Pengantin indonesiaku tak lagi dijaga datu-datu indonesiaku memendam dendam tajamnya kilau belati,
 iris mengiris koyak mengoyak tikam menikam
iris mengiris koyak mengoyak tikam menikam
iris mengiris koyak mengoyak tikam menikam
iris mengiris koyak mengoyak tikam menikam
indonesiaku indonesiaku indonesiaku
o, indonesiaku
dalam kaca mata luka
berlari aku yang berdiam di tempat tak menentu mengejar sesuatu, entah dari entah ke mana entah di sol sepatu berlapis debu-debu; engkau indonesiaku berapa sudah kata jarak sejak kaki bayi pertama menginjak
aku bukan bulan pemantul cahaya itu aku bukan
aku bukan bumi penyerap derita itu aku bukan
aku bukan cahaya pembelah debu itu aku bukan
Indonesia, oo indonesiaku berbaring dan pejamkan matamu
urailah kusut masainya syaraf-syaraf di otak mesummu nikmati desir nikmati desau nikmati sepoi nikmati hadirkanlah mantra-mantra penolak bala itu hadirkan hadirkan dalam pejam keleburan antara bagian kepala antara bagian tangan dan kaki antara bagian bahu ke perut sebelum matimu mencapai kesempurnaan yang sesungguhnya dari setiap tarikkan napas di antara napas-napas yang lain mengejar aku yang terpana di batu pijak tak menentu tertangkap jejak belalang di lentingan titik-titik embun berlalu dan sirna bersama naiknya terik di sejengkal ubun-ubun mempesonakan kelentikan gemulai ketiak daun jambu
aku bukan penebang getah galau itu aku bukan
aku bukan penikam bau dendam itu aku bukan
aku bukan penembak kepak sayap garuda retak itu aku bukan, Indonesia, oo indonesiaku
baringkan titik renungmu sampaikan setiap salam ke dalam catatan langit biru lembar demi lembar helai demi helai mari kita tempatkan unsur demi unsur itu engsel demi engsel itu pada bilik-bilik tak bersekat baja mempesona datang dari arah mata angin tak bertuan, “mampuslah engkau dikoyak-koyak sepi !!!”
Indonesia, oo indonesiaku seperti risau anak pipit;
                                     … umai-umai
                                     kada pang sampai hati
                                     malihat anak pipit kaciakan, ambili anak pipit   
                                jangan biarkan anak pipit, dalam sangsara
aku alunkan segerobak luka di antara hembus-hembus
aku bukan aku bukan aku bukan aku bukan aku bukan
sebab aku hanya seorang penyair yang terselip di rumpun sarai…
                                    ambili anak pipit, jangan biarkan anak pipit
                                        dalam sangsara
dalam kaca mata luka
dan kita
pun !!!
merenunglah aku di semak-semak pemikiran
indonesia dalam kaca mata luka
apakah harus semua orang mengirimkan caci maki ini
apakah harus semua kucing yang berbentuk binatang itu selalu menghadirkan cakar dalam meong panjang mengendap dalam pengintaian yang teramat sabar
apakah harus semua ombak dan gelombang menjelmakan badai sementara pantai tak bersahabat-karang siput dan kerang terusik selalu dari sarang paus dan lumba-lumba tak tampat bercanda riang
apakah harus semua akar yang malu-malu itu bermunculan, “getahku tak berdaun getahku tak berdaun getahku, apalagi yang dapat aku serap di lorong tanah ini, tanahku bau darah tanahku bau darah tanahku bau…”
apakah harus semua sungai tak lagi mengenal kemana arusnya dan muara selalu mempersalahkan hujan dan hujan selalu mempersalahkan angin dan angin selalu mempersalahkan hembus dan hembus selalu mempersalahkan desah dan desah selalu mempersalahkan gundah dan gundah selalu mempersalahkan wahai
apakah harus semua kompor menutup lubang-lubang sumbu sementara minyak merindukan nyala
apakah harus semua zikir menuliskan fonem-fonem persukuan sementara kata merinduklan kalimat dan kalimat sangat berharap untuk menjadi paragraf
apakah harus semua apakah harus apakah
menunggu bukan kata yang paling tepat bukan mimpi yang tak bersambung; indonesiaku bukanlah mimpi indonesiaku adalah semua orang indonesiaku adalah semua kucing indonesiaku adalah semua ombak dan gelombang  indonesiaku adalah semua akar indonesiaku adalah semua sungai indonesiaku adalah semua kompor indonesiaku adalah semua zikir indonesiaku adalah semua tak ada yang tersisa sampai debu tak lagi berdebu
lihatlah wahai indonesiaku rindu bukan sekedar rindu
lihatlah wahai indonesiaku luka bukan senganga luka

(menyaksikanlah aku pada bingkai awan berkaca bening di permukaan danau riak gemericik dan kecipak liuk ikan menari geliat sisik pantulan bulan; mari ke mari kita sikut itu sunyi, mari ke mari kita pasung itu sepi; taman hijau taman hati kembali kepada Sang Nurani, sambut kelingking jari-jemari, wahai indonesiaku, di tepi kolam ikan aku berdiri)”

Pada sebuah pulau tiga anak manusia berjalan menuju tiang-tiang panjang. Derap langkah yang penuh keyakinan bahwa memang garis hidup telah ditentukan. Pada sebuah pulau tiga anak manusia dengan tatap mata bersinar dengan senyum selalu saja menebar dengan kepal tangan mencoba meruntuhkan kawat berduri dari kokohnya pagar-pagar. Pada sebuah pulau sejarah kemanusiaan saling mewarta saling berkabar. Pada sebuah pulau percik api berkobar dan menjalar membakar. Pada sebuah pulau, malam dan embun semakin menjadi-jadi. Dan pada sebuah pulau yang lain lagi banyak tengadah telapak tangan, berbaur bau asap di dupa-dupa, kepada apa saja tuhan dan dewa sebagai pengharapan untuk mengabulkan segala doa. Pada pulau yang lain ini telah pula lembaran sejarah memperingatkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, bagaimana pun dan untuk apapun juga, tanpa kecuali adalah harus tetap dipelihara dan dijaga. Tangis bukan jalan yang termudah, tetapi darah di pelupuk mata bukanlah satu-satunya cara.

Di atas pentas, puisi baru saja tuntas dibacakan, dengan hapalan yang sangat memukau. Penonton tak bisa menahan gemuruh tepuk tangan bersamaan dengan seorang aktor diam tersungkur rebah tersandar lemah lunglai di tiang pancang. Satu pemain dibawa ke belakang layar pertunjukan, orang-orang bersuara membahana dengan bayang-bayang kepal tangan. Engkau tuhan kami yang maha pemurah pengampun dan maha damai. Terimalah ia sebagaimana layaknya sebagai anak manusia. Ciptaanmu jua. Amin. Izinkan ia mencium mesra bau tanahnya sendiri karena tanah itu engkau yang memiliki. Tuhan, telah tercatat tiga anak manusia dengan tangan mengepal menuntaskan apa yang memang seharusnya dituntaskan.

Pada sebuah pentas, berjarak puluhan centi meter pada skala-peta dari sebuah pulau, para pemain berkumpul untuk melakukan pemakaman terakhir bagi seorang aktor yang dengan sangat manis dan meyakinkan telah mampu menghadirkan sebuah cermin besar kehidupan menjadi nyata dalam genggaman, di atas pentas dan pada sebuah pulau, semuanya bisa saja terjadi tanpa dapat diduga-duga sebelumnya, adalah keliaran imaji di kepala para  penonton sebagai saksi dalam setiap persidangan. Gerimis mempercepat sinar berlindung di balik kelam. Hujan akan datang, ketika orang-orang berduyun tanpa dapat menahan rasa ingin rasa mau rasa yang telah dijanjikan bahwa segalanya akan dilakukan dengan penuh sepenuh keterbukaan. Sekarang, orang-orang menjadi lupa karena sibuk dengan tampilan di pinggir-pinggir jalan, wajah-wajah membosankan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!