Selasa, 15 April 2014

Menggugat Tanggung Jawab Dewan Kesenian



Samsuni Sarman

Musyawarah Seniman ke V Dewan Kesenian KalimantanSelatan (DKKS) Tahun 2014 yang dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 April 2014 bertempat di Ruang Manggala Hotel Pesona Banjarmasin. - sebuah perjalanan sejarah organisasi kesenian yang menjadi kiprah para seniman dan budayawan menggelorakan karya, namun dalam kenyataan masih harus menerima berbagai hujatan dan pujian. Menggugat tanggung jawab secara organisasi adalah salah satu tuntutan peserta Musen ke V DKKS yang nyaring terdengar. Pertama, menggugat periodesasi kepengurusan yang lebih daripada lima tahun berjalan; Kedua, menggugat pertanggung jawaban program kerja yang dilaksanakan selama masa bakti kepengurusan, Ketiga, menggugat kejelasan penggunaan anggaran kerja prganisasi yang sudah diterima dan digunakan pengurus.
Musen ke V DKKS ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Selatan Bapak H. Rudy Ariffin dengan sebuah harapan agar seniman dan budayawan selalu memberikan dukungan terhadap pembangunan bidang seni dan budaya, khususnya sebagian budaya banjar yang hampir punah agar dapat terpelihara dan menjadi panutan serta pengetahuan bagi generasi muda. Musen ke V DKKS ini didukung sepenuhnya oleh Disporbudpar Kalimantan Selatan serta Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah peserta 100 orang terdiri dari utusan UPTD Disporbudpar, Pengurus DK Kota/Kab serta utusan perorangan seniman dan budayawan.

Hari Pertama, Jumat 11 April 2014
Acara yang sudah tersusun dalam pelaksanaan Musen ke V DKKS Tahun 2014 ini menjadi salah satu sebab terjadinya keriuhan peserta saling berbisik dan bertanya. Pertama, tidak tercantumnya 2 acara yang oleh sebagian peserta sangat penting - yakni pemandangan umum pengurus DK Kota/Kab terhadap kinerja DKKS selama masa periode lima tahunan berjalan serta tidak tercantumnya acara laporan pertanggung jawaban pengurus DKKS terhadap kinerja dan keuangan sebagaimana lazimnya pergantian kepengurusan suatu organisasi. Apalagi ada acara Diskusi Panel dengan pemakalah dari aparat Disporbudpar dan DK Kota/Kab yang lebih banyak bertindak sebagai pemerhati organisasi bukan sebagai pekerja yang terlibat langsung mengelola organisasi Dewan Kesenian. Interaksi peserta Musen ke V DKKS pun menjadi kurang selera - karena masing-masing peserta justru mempertanyakan eksistensi pemakalah bukan pada materi makalah yang terkait peran Dewan Kesenian. Malah, yang ditunggu sebagai keynote speaker - Bapak DMA Drs. H. Syarifuddin. R selaku Ketua Harian DKKS diharapkan memberikan kejelasan dalam kinerja dan keuangan selama masa kepengurusan pun tidak tersampaikan hingga membuat masygul sebagian peserta.

Hari Kedua, Sabtu 12 April 2014
Pukul 09.00 Wita acara Musen ke V DKKS dimulai dengan Pembahasan Tata Tertib yang dipimpin oleh Micky Hidayat dan Taufik Arbain. Kembali tuntutan peserta musen agar laporan pertanggungjawaban Pengurus terhadap kinerja dan keuangan menjadi prioritas - malah rancangan tatip yang menetapkan pemilihan pengurus melalui formatur diganti dengan suara terbuka peserta musen. Dinamika peserta dalam interaksi membahas tatip semakin menguatkan bahwa profesional kerja sebuah organisasi seharusnya dijadikan momen yang utama dalam pelaksanaan musen ini - karena apalah arti sebuah musen jika evaluasi kerja kepengurusan tidak terakomodasi. Selanjutnya, peserta musen memberikan tanggapan dan masukan dalam sidang komisi yang dipimpin oleh Fahmi Wahid (DK Kab Balangan), Abdurahman el Husaini (DK Kab Banjar) dan Samsuni Sarman (DK Kota Banjarmasin). Ada 3 komisi yang dibahas peserta, yaitu Komisi A bidang Organisasi berupa AD/ART, Komisi B bidang Program Kerja, serta Komisi C bidang Rekomendasi. Ada satu keinginan dari peserta musen dalam revitalisasi DKKS - diantaranya peran DKKS yang lebih fokus pada status lembaga kesenian yang bersifat kebijakan, informasi, dan promosi sementara DK Kota/Kab berorientasi kerja dalam bentuk even dan moment berkesenian. Hal ini termuat dalam hasil sidang Komisi A dan Komisi B serta lebih dipertegas lagi oleh Komisi C dengan 8 butir rekomendasi untuk Pemerintah Daerah, Dinas dan Instansi terkait, serta komunitas seni di kalimantan Selatan.

Pukul 13.30 Wita acara Musen ke V DKKS adalah pemilihan pengurus periode 2014 - 2019 dengan sistem terbuka melalui pengajuan bakal calon dilanjutkan pemilihan calon Ketua DKKS yang baru. Setelah menyampaikan visi dan misi kepemimpinan oleh 3 calon yang terjaring, maka melalui surat suara yang sah sebanyak 83 lembar dari 3 calon yaitu M. Jahri (DK Kab Kotabaru), Amanul Yakin (budayawan) dan DMA H. Syarifuddin, R (budayawan) terpilih dengan suara terbanyak DMA H. Syarifuddin. R selaku Ketua DKKS yang baru. Sebuah pertanyaan menggugat kembali terdengar dari Iberamsyah Amandit selaku sastrawan utusan DK Kab. Batola kepada Ketua Terpilih, DMA H. Syarifuddin, R - "Apakah tanpa laporan kinerja dan keuangan seperti musen ini akan menjadi tradisi pada tahun selanjutnya?" Begitu pula seloroh DMA. H. Adjim Arijadi yang menggugat tidak pernah dilibatkan sebagai Dewan Pertimbangan DKKS dalam setiap kebijakan maupun pelaksanaan program. "Apakah masih diperlukan keberadaan Dewan Pertimbangan, kalau tidak hapus saja" demikian beliau memberi papadah kepada kepemimpian baru DKKS ini. Akhirnya, ditetapkan formatur sebanyak 9 orang terdiri atas Ketua Terpilih, wakil DK Kota/Kab, Dewan Pertimbangan dan seorang wakil perorangan dari budayawan/seniman untuk menyusun kepengurusan sesuai hasil sidang Komisi A dalam struktur organisasi yang terbaru.

Pukul 09.00 Wita peserta Musen ke V DKKS mendapat suguhan pergelaran sastra dan teater tutur budaya Banjar yang dipersembahkan UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan melalui teater modern, sajian tutur budaya balamut, madihin, pantun, dan basyair. Sebelumnya disajikan ensambel musik tradisional yaitu kuriding sebagai sajian pertama menyambut kedatangan undangan dan peserta Musen.

Menggugat Tanggung Jawab Dewan Kesenian adalah milik kita bersama seniman dan budayawan dalam menggelorakan karya bagi diri sendiri maupun kemajuan seni dan budaya Kalimantan Selatan - kita tidak akan melupakan sejarah masa lalu yang mungkin belum memuaskan semua pihak namun semangat berkarya adalah harapan dan keinginan yang mestinya menjadi jejak lebih baik dan terhormat bagi Pengurus DKKS yang terpilih dalam menjalankan amanah. Salam budaya.

Sumber: Ali Syamsudin Arsy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!