Senin, 04 Agustus 2014

Apresiasi/Bedah Karya: “Gemuruh”

Judul buku          :  Gemuruh, Puisi Dari Kalimantan
Penulis                :  Ali Syamsudin Arsy
Apresiator          :   Arif Er Rahman
Moderator          :   Jo Prasetyo
MC                       :  Lukman El hakim
Waktu                 :   Sabtu, 14 Juni 2014
Tempat                :   Malam Puisi Balikpapan #13, Café D’Wa- Balikpapan

“Secara sederhana, bisa saya simpulkan bahwa Bung Ali Syamsudin Arsy berusaha mengangkat realitas sosial di bumi Kalimantan dengan dominasi bahasa khas Kalimantan, baik gaya bahasa sastranya maupun gaya bahasa rakyat pada umumnya. Bahwa sajak yang memungut realitas sosial dalam era kekinian dengan polesan bahasa yang tidak terlalu rumit, tanpa tendensi, adalah ungkapan sesungguhnya atas suatu ironi sosial yang terjadi di sekitar kita. Sebab sajak yang demikian murni terlahir dari hati nurani. Menampilkan paparan kenyataan yang sangat layak untuk di simak dan di nikmati.

Bisa juga saya katakan, Bung Ali Syamsudin Arsy adalah salah seorang dari sekian penulis di bumi Kalimantan yang peka terhadap realita sosial sejak surutnya era Korrie Layun Rampaan, yang berusaha memadukan gaya sastra daerah dengan sastra modern.”

(Jo Prasetyo, Pembina Komunitas Sastra Pelangi Sukma
Aktivis Balikpapan Art Foundation)

Komentar di atas adalah ungkapan saya terhadap isi buku Antologi Sajak “Gemuruh, Puisi Dari Kalimantan” karya Ali Arsy Syamsudin yang di apresiasi dalam acara Malam Puisi Balikpapan ke-13, sekaligus jadi menu pembuka acara “Apresiasi Karya” MPB. Komentar itu juga di cantumkan pada akhir halaman buku tersebut oleh penulisnya sebagai ‘Catatan Dari Balikpapan’, tentu saja setelah naskah di kirimkam oleh penulisnya untuk saya simak dan telaah sebelum buku tersebut di terbitkan.

Pemaparan kembali komentar saya dalam acara ‘Apresiasi Karya’, tak lebih sebagai rasa pertanggung jawaban atas sikap saya sebagai apresiator terhadap terbitnya buku tersebut. Menurut saya adalah suatu keharusan bagi seorang apresiator untuk menjelaskan alasan-alasan yang mendasari komentarnya (baca:Endoorsment) terhadap isi suatu karya tulis yang di terbitkan agar tidak menyesatkan opini para pembaca dan penikmat karya tersebut, tentunya jika apresiator kebetulan bisa hadir dalam acara apresiasi/bedah karya tersebut.

Dalam buku “Gemuruh, Puisi Dari Kalimantan”, penulis mencoba menguraikan kondisi di bumi Kalimantan yang kian porak poranda oleh maraknya kegiatan eksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak terhadap ekologi dan lingkungan hidup. Segala macam ekplorasi pertambangan, mulai dari minyak, gas bumi, batubara, emas hingga batu permata, baik secara modern maupun tradisional sudah terbukti sangat berpengaruh dan merusak terhadap keseimbangan alam di bumi Kalimantan. Belum lagi eksploitasi terhadap hasil hutan atau ladang-huma dimana tempat masyarakat lokal menggantungkan harapan sebagian besar sudah di rambah dan menjelma jadi perkebunan sawit yang hasilnya hanya bisa di nikmati oleh segelintir orang pemodal, hingga menimbulkan ketimpangan-ketimpangan sosial  dan mengabaikan kelangsungan hidup warga lokal.

Penulis juga memaparkan, gejala-gejala yang sekarang terjadi dan makin akut di bumi Kalimantan adalah akibat ulah para spekulan dan pemodal yang berkongsi dengan para pejabat daerah bermental bobrok yang hanya memikirkan keuntungan bisnis semata tanpa memikirkan keberlangsungan hidup masyarakat setempat dan lingkungannya. Tapi kenapa menyindir Jakarta di buku anda, Bung?, tanya salah seorang peserta apresiasi. Lho, bukankah sebagian besar para spekulan/pemodal yang meng-eksploitasi bumi Kalimantan adalah mereka yang berasal dan berkantor di Jakarta?. Ya, pertanyaan balik tadi sekaligus menjawab rasa penasaran segenap hadirin, bahkan menggugah kesadaran bahwa sebagai belahan timur bumi Kalimantan, Balikpapan juga sedang mengalami masalah yang sama. Maka mari kita menyuarakannya, ajaknya mantap.

Adalah Bung Arif Er Rahman, apresiator dari Harian Tribun Kaltim, secara khusus menyikapi nuansa kedaerahan yang juga terkandung dalam buku ini. Menurutnya, buku ini sangat menarik untuk di baca, selain berisi keluh, himbauan, dan kritikan terhadap yang sedang terjadi di bumi Kalimantan (penulis meng-istilahkan dengan Gumam), penulis juga mengangkat kembali istilah-istilah kedaerahan (local idioms) yang sangat erat kaitannya dengan budaya daerah Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan dimana penulis lahir dan berdomisili saat ini. Mengemukakan kembali istilah daerah yang berakar dari budaya daerah, berarti mengajak para pembaca dan penikmat buku ini untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan kekayaan bangsa yang hakiki. Tidak ada yang lebih mulia dan berarti selain dari bakti anak negeri yang sudi berkarya untuk melestarikan budaya asli bangsa sendiri, tandas Bung Arif Er Rahman mengakhiri. Dan kami semua mengamini.

Lebih jauh tentang apresiasi buku ini adalah pesan bijak dari seorang staf pengajar di Universitas Lambung Mangkurat-Banjarmasin, Sainul Hermawan yang mengatakan:
“Saya lebih suka dengan kehadiran buku ini daripada gumam penulisnya sendiri. Selamat datang di jalan terang, jalan kebaikan dan jalan kebenaran. Jalan puisi”.

Ya, setuju sekali. Puisi adalah nyanyian hati, tak ada yang lebih jujur dari nurani. Bahkan, seorang MH. Ainun Najib pernah mengatakan: “Jika merasa tak ada lagi yang bisa di percaya, maka percayalah pada puisi”.

Salam sastra,
Balikpapan, 14 Juni 2014


(sukma perindu…) ~JO~               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAKAN ANDA BERKOMENTAR!